Mei 06, 2018

Buah Tangan Dari Sumba : Bagian Tiga


Rabu 25 April 2018,
            Pagi itu kami melaksanakan program kerja sekolah lingkungan bagi anak-anak sekolah dasar. Berdasarkan kesepakatan dengan bapak kepala desa, kami ditempatkan di SD M Puu Uppo Weepangali Sumba Barat Daya. Seharusnya hari ini kami mengajarkan adik-adik disana untuk praktik mengolah sampah botol menjadi tong sampah dan tempat pensil. Tapi, sialnya botol yang telah kami kumpulkan sejak berada di bandar udara Ngurah Rai tiba-tiba saja raib. Beberapa kebutuhan seperti cat lem dan lain sebagainya pun hari itu belum tersedia sebab susahnya mencari barang-barang tersebut di kota ini. Maka mau tak mau kami mensiasati semua program kerja di last hour kami. Kegiatan akhirnya kami sepakati bersama menjadi sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik, pengertian reduce reuse recycle, serta pencontohan pemanfaatan botol menjadi bunga dan kaos bekas menjadi tote bag.

SD M Puu Uppo pagi itu begitu ramai. Anak-anak tingkat enam semua berbusana daerah, sedang melakukan ujian praktik. Beberapa anak membaur dengan kami, sisanya berada di sudut-sudut sekolah menghafalkan lagu-lagu daerah, atau merasa asing kepada kami. Seorang guru dengan membawa palu ditangan kanannya mengarahkan anak-anak tingkat tiga, empat, dan lima untuk menuju ruang aula yang seadanya. Tubuh-tubuh mungil, kaki-kaki kecil semuanya berjalan cepat-cepat dengan membawa bangku diangkat tinggi-tinggi diatas kepalanya. Beberapa bajunya lusuh, kaki-kakinya begitu tahan menahan tanah Sumba yang panas tanpa alas kaki, beberapa yang lain menggunakan sandal dan sepatu. Beberapa membawa tas, ada pula yang tidak. Ada yang hanya membawa satu buku saja. Dan disana aku merasa terenyuh, dengan segala keterbatasan mereka masih mempertahankan mimpinya. Memperjuangkan tajamnya intuisi dengan edukasi.

Proses program kerja kami cukup berhasil. Ramai sekali dan antusias anak-anak dalam belajar begitu tinggi. Ada satu hal yang membuat aku lebih terharu, saking terharunya aku sampai lupa menanyakan nama anak ini, pangeran kecil pecinta lingkungan kita. Ketika aku menanti kawanku menjemput aku untuk kembali ke posko, aku sedang bercengkrama dengan Dell si juara kelas yang ingin menjadi dokter, Astri sicantik yang ingin menjadi suster, juga Tami yang suka makan. Tiba-tiba seorang anak lelaki kecil dengan menggebunya menghampiriku lalu mengadu seperti ini, “Kakak kakak ada yang buang sampah sembarangan sana, itu sana minum v*ta tadi, tadi kami sudah marah tadi tapi tetap masih buang” Kau tau rasanya senang sekali, apa yang kami sampaikan tertanam pada seorang laki-laki cilik yang begitu peduli. Semoga saja terus begini sampai besar nanti dik. Kamu cerdas.

          
  Sesampainya diposko, kami melanjutkan membuat plang dengan membuat cetakan-cetakan huruf, selain itu kami juga membuat tong sampah daur ulang dari botol untuk rumah baca yang kami siasati menjadi tong sampah daur ulang dari tempat minum plastik, sampah yang dihasilkan dari program kerja kawan-kawan divisi kesehatan. Kami juga membuat hiasan dari sisa-sisa botol yang kami miliki. Botol-botol itu kami jadikan menjadi bentuk bunga dan gurita untuk dijadikan gantungan.

            Sore hari kami diajak oleh mama dan papa desa Weepangali untuk belajar menari tarian ronggeng dan wolek. Tarian yang biasa disuguhkan ketika menyambut tamu atau acara-acara lainnya. Kami menari hingga matahari tergelincir,menyenangkan sekali. Setelah itu kami kembali lagi pada persiapan program kerja kami. Dan malam hari aku memilih untuk tidur lebih awal. Diiringi lagu Laskar Pelangi. Aku teringat sore tadi menemui sebuah senyum yang begitu lebar. Menggangguku, sebab memunculkan ingatanku pada seseorang yang terpisahkan oleh satu zona waktu, yang aku harap akan terlupa setelah aku menginjakan kaki ditempat ini. Jika senyum itu terus ada, aku bisa jadi menyembuhkan rasa padamu senja(ku) yang bijaksana. Tapi, ketika senyum itu hadir, seseorang pertama yang aku ingat malah kamu senja. Aku, rindu.
0

0 komentar :

Posting Komentar