Mei 05, 2018

Buah Tangan Dari Sumba : Bagian Satu


Sembilan kali langit telah berubah-ubah warna, menjadi saksi dimana aku membulatkan tekadku untuk berkelana,mewujudkan satu impiku yang sedari dulu hanya aku bayang-bayangkan dalam awang. Menjalani hari-hari baruku dengan meninggalkan aktivitas rutin yang mengikat. Meski sejenak, setidaknya mampu memberi warna baru untuk monotonisme hidupku.

Hari-hari menyenangkan kulalui, hingga akhirnya aku harus bertemu kembali dengan tenggat-tenggat yang telah menantiku. Sebelum aku kembali pada hariku, maka kuberikan buah tangan dari perjalanan baruku. Sebagai wujud syukur juga bentuk pangabadian ceritaku. Tidak untuk membuat terkesan, jika memang kau sempat bacalah kisah perjalananku dibulan keempat lalu.

Minggu 22 April 2018,
            Aku tiba di pulau Dewata, bertemu dengan seorang kawan baru, seseorang yang sangat baik berwajah ayu dan berhati lembut. Tidak hanya itu, sore hari kami pergi menyusuri pantai Kuta yang tak pernah mati. Disana, aku bertemu lagi dengan kawan-kawan baru lainnya yang sama-sama akan mengelabuhi tenggat dengan sebuah misi kemanusiaan. Senja itu kami habiskan dengan sebuah cengkrama hangat.

Senin 23 April 2018,
Bandar udara Ngurah Rai,
            Hiruk pikuk baru, sebuah ego sadar untuk diturunkan. Bertemu dengan wajah-wajah baru, nama-nama baru. Jalinan baru, membuat simpul ikatan-ikatan anyar. Bertukar fikiran juga pengalaman sembari menanti pesawat kami terbang menuju bumi Marapu. Berbagai latar belakang sempat membuatku ciut. Kau tau, mereka adalah orang-orang hebat, intitusinya tak diragukan cara bicaranya begitu mengagumkan, gaya bahasanya tertata dan aku merasa hanya sebuah serpih yang mengira-ira “aku sedang tidak mimpikan ini?”

            Dan sebelum lepas landas dari pulau seribu pura, aku paham dan aku sengaja untuk sedikit membatasi komuniasiku menggunakan internet. Aku sempat resah hingga mencari suatu merk kartu perdana agar aku dapat menghubungi orang-orang dikota istimewaku. Tapi sepertinya alam semesta tidak berpihak kepadaku, hingga satu jam keberangkatanku aku bahkan tak menemuninya, yasudah nikmati saja. Mungkin sesekali butuh terputus dengan segala media sosial agar benar-benar tenang.

Bandar udara Tambolaka,
Bandar udara Tambolaka saat itu begitu tenang. Hanya satu pesawat kami saja yang mendarat. Tidak seperti kebanyakan bandar udara yang ramai, Tambolaka begitu syahdu dengan jingga matahari yang menelusup tiang-tiang kokoh tiap sudut bangunan. Kami bergegas mengambil barang-barang pribadi juga donasi yang telah kita siapkan. Lalu kami berangkat menuju lokasi pengabdian kami selama lima hari kedepan.

Desa Weepangali, Sumba Barat Daya
            Semilir angin sore menemaniku yang masih saja diam diatas pick up yang mengantarkan kami, sebongkah tekad ku bulatkan meski beberapa kali aku masih merasa asing diantara kumpulan tawa juga orang-orang asing yang tak pernah aku bayangkan akan menjadi keluarga kesekian dari konstelasi yang berbeda. Aku mengamati setiap sudut perjalanan dengan sebuah rasa kagum juga tanya yang begitu besar. Aku kagum dengan langit sumba yang sangat indah untuk menjadi rumah senja. Dan benakku sibuk bertanya-tanya dengan segala keterbatasan tempat-tempat yang aku lalui.

            Pick up kami berhenti didepan suatu bangunan sederhana. Terdapat plang kayu berwarna putih yang dimakan rayap dibagian kakinya bersandar ditubuh dinding bercat kuning, balai desa. Kami turun satu persatu dari pick up yang membawa kami. Aku melihat banyak warga desa sudah bersiap-siap menyambut kami. Senyum cantik dari bibir-bibir merah bekas sirih pinang itu satu persatu merekah. Suara alunan musik daerah mulai terdengar. Anak-anak perempuan dan dua anak laki-laki mulai bergoyang mengikuti irama menarikan tarian ronggeng dan wolek. Ibu-ibu dengan suka cita bersorak-sorai akan kedatangan kami,bapak-bapak yang mendengarnya semakin bersemangat menabuh alat-alat musik. Tubuhku gemetar, sekujur tubuhku merinding. Aku terharu, sebegininya mereka menyambut kami,pikirku.

            Setelah sambutan hangat bapak kepala desa beserta seluruh perangkat desa lainnya, kami mempersiapkan diri untuk beristirahat, kami disediakan dua ruangan disamping balai desa untuk bermalam. Ruangan yang cukup nyaman dengan dua jendela yang cukup besar,meskipun sedikit gerah didalamnya, untuk malam hari kami tidak dianjurkan untuk membuka jendela, banyak ular pohon katanya. Diatas tikar rotan yang beberapa kali kami bersihkan dari ulat kaki seribu atau yang biasa di sebut masyarakat jawa sebagai luwing dan di dalam sleeping bag hitamku, dengan alunan lolongan anjing anjing milik warga sekitar, kami terlelap dan bersiap melanjutkan hari esok.
0

0 komentar :

Posting Komentar