Sembilan
kali langit telah berubah-ubah warna, menjadi saksi dimana aku membulatkan
tekadku untuk berkelana,mewujudkan satu impiku yang sedari dulu hanya aku
bayang-bayangkan dalam awang. Menjalani hari-hari baruku dengan meninggalkan
aktivitas rutin yang mengikat. Meski sejenak, setidaknya mampu memberi warna
baru untuk monotonisme hidupku.
Hari-hari
menyenangkan kulalui, hingga akhirnya aku harus bertemu kembali dengan
tenggat-tenggat yang telah menantiku. Sebelum aku kembali pada hariku, maka
kuberikan buah tangan dari perjalanan baruku. Sebagai wujud syukur juga bentuk
pangabadian ceritaku. Tidak untuk membuat terkesan, jika memang kau sempat
bacalah kisah perjalananku dibulan keempat lalu.
Minggu
22 April 2018,
Aku tiba di pulau Dewata, bertemu
dengan seorang kawan baru, seseorang yang sangat baik berwajah ayu dan berhati
lembut. Tidak hanya itu, sore hari kami pergi menyusuri pantai Kuta yang tak
pernah mati. Disana, aku bertemu lagi dengan kawan-kawan baru lainnya yang
sama-sama akan mengelabuhi tenggat dengan sebuah misi kemanusiaan. Senja itu
kami habiskan dengan sebuah cengkrama hangat.
Senin
23 April 2018,
Bandar
udara Ngurah Rai,
Hiruk pikuk baru, sebuah ego sadar
untuk diturunkan. Bertemu dengan wajah-wajah baru, nama-nama baru. Jalinan
baru, membuat simpul ikatan-ikatan anyar. Bertukar fikiran juga pengalaman
sembari menanti pesawat kami terbang menuju bumi Marapu. Berbagai latar
belakang sempat membuatku ciut. Kau tau, mereka adalah orang-orang hebat,
intitusinya tak diragukan cara bicaranya begitu mengagumkan, gaya bahasanya tertata
dan aku merasa hanya sebuah serpih yang mengira-ira “aku sedang tidak mimpikan
ini?”
Dan sebelum lepas landas dari pulau
seribu pura, aku paham dan aku sengaja untuk sedikit membatasi komuniasiku
menggunakan internet. Aku sempat resah hingga mencari suatu merk kartu perdana
agar aku dapat menghubungi orang-orang dikota istimewaku. Tapi sepertinya alam
semesta tidak berpihak kepadaku, hingga satu jam keberangkatanku aku bahkan tak
menemuninya, yasudah nikmati saja. Mungkin sesekali butuh terputus dengan
segala media sosial agar benar-benar tenang.
Bandar
udara Tambolaka,
Bandar
udara Tambolaka saat itu begitu tenang. Hanya satu pesawat kami saja yang
mendarat. Tidak seperti kebanyakan bandar udara yang ramai, Tambolaka begitu
syahdu dengan jingga matahari yang menelusup tiang-tiang kokoh tiap sudut
bangunan. Kami bergegas mengambil barang-barang pribadi juga donasi yang telah
kita siapkan. Lalu kami berangkat menuju lokasi pengabdian kami selama lima
hari kedepan.
Desa
Weepangali, Sumba Barat Daya
Semilir angin sore menemaniku yang
masih saja diam diatas pick up yang mengantarkan kami, sebongkah tekad ku
bulatkan meski beberapa kali aku masih merasa asing diantara kumpulan tawa juga
orang-orang asing yang tak pernah aku bayangkan akan menjadi keluarga kesekian
dari konstelasi yang berbeda. Aku mengamati setiap sudut perjalanan dengan
sebuah rasa kagum juga tanya yang begitu besar. Aku kagum dengan langit sumba
yang sangat indah untuk menjadi rumah senja. Dan benakku sibuk bertanya-tanya
dengan segala keterbatasan tempat-tempat yang aku lalui.
Pick up kami berhenti didepan suatu
bangunan sederhana. Terdapat plang kayu berwarna putih yang dimakan rayap
dibagian kakinya bersandar ditubuh dinding bercat kuning, balai desa. Kami
turun satu persatu dari pick up yang membawa kami. Aku melihat banyak warga
desa sudah bersiap-siap menyambut kami. Senyum cantik dari bibir-bibir merah
bekas sirih pinang itu satu persatu merekah. Suara alunan musik daerah mulai
terdengar. Anak-anak perempuan dan dua anak laki-laki mulai bergoyang mengikuti
irama menarikan tarian ronggeng dan wolek. Ibu-ibu dengan suka cita
bersorak-sorai akan kedatangan kami,bapak-bapak yang mendengarnya semakin
bersemangat menabuh alat-alat musik. Tubuhku gemetar, sekujur tubuhku
merinding. Aku terharu, sebegininya mereka menyambut kami,pikirku.
Setelah sambutan hangat bapak kepala
desa beserta seluruh perangkat desa lainnya, kami mempersiapkan diri untuk
beristirahat, kami disediakan dua ruangan disamping balai desa untuk bermalam. Ruangan
yang cukup nyaman dengan dua jendela yang cukup besar,meskipun sedikit gerah
didalamnya, untuk malam hari kami tidak dianjurkan untuk membuka jendela,
banyak ular pohon katanya. Diatas tikar rotan yang beberapa kali kami bersihkan
dari ulat kaki seribu atau yang biasa di sebut masyarakat jawa sebagai luwing
dan di dalam sleeping bag hitamku, dengan alunan lolongan anjing anjing milik
warga sekitar, kami terlelap dan bersiap melanjutkan hari esok.
0 komentar :
Posting Komentar